Dewinda Asih Nastiti
AYAH
Aku tahu bahwa takan pernah ada bayangan bila tak ada satu benda
Aku paham dikala matahari tenggelam, maka malam datang menjelang
Aku mengerti selalu ada cinta dari mega pada sang pelangi
Aku bahkan sangat memahami kisah tentang buah dari cinta
Ada cerita yang tak mampu kuterjemahkan dalam bahasa dan imaji
Kala ku berusaha hanya membentuk bayangan
Lalu menjelma menjadi fatamorgana
Kasih sayang yang takan pernah sirna, kata mereka
Perjuangan yang tiada tara, ucap mereka
Pengorbanan yang tak kunjung padam, lontaran yakin menjelma di mulut mereka
Lalu, tak ada peduli,
tak ada perhatian,
apalagi pengorbanan...
Bukan, bukan tentangmu
Karena meski kupaksa untuk mencipta sosokmu dalam hidupku
tak ada, semuanya nihil.... hanya gelap dan bayangan yang tak kunjung tercipta.
Biarlah waktu yang menjawab, karena
dulu pun dia yang menjadi saksi hidupku, hidup ibuku, hidup adiku, hidup kakakku, yang tanpamu, yang
hanya di dampingi siluet hadirmu di kala malam menjelang petang.
entahlah, ayah?